Tampilkan postingan dengan label Jaringan Tanaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jaringan Tanaman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2012

PERBEDAAN SEL TUMBUHAN DAN SEL HEWAN

Sel adalah unit terkecil dari makhluk hidup, baik secara struktural dan fungsional. Sel merupakan satuan dasar yang menyusun organisme. Pada tahun 1665 seorang ilmuwan asal Inggris yang bernama Robert Hooke mengamati sayatan sel gabus botol mikroskop yang amat sederhana yang terlihat olehnya adalah struktur dari ruang kecil , dimana dinamakan sel. Nehemiah grew menuliskan deskripsi pertamanya tentang jaringan tumbuhan pada tahun 1671. Pada tahun 1980, Heinstein menggunakan istilah protoplas bagi satuan protoplasma dalam sel (Gabriel, 1988).
Pada tahun 1381 Robert Hooke menemukan semacam benda bulat didalam sel epidermis tanaman anggrek yang kemudian disebut inti sel (nukleus). Pada tahun 1846 Hugo Van Mohl membedakan antara protoplasma dan cairan sel kemudian pada tahun 1862 koliker memperkenalkan istilah protoplasma (Soenarto, 1992).
Sebagai suatu system terkecil, sel mempunyai andil dalam menyusun tubuh suatu organisme yang sangat besar, juga dalam menyokong kehidupan suatu organisme, karena itulah kehidupan dapat ditunjang dengan keberadaan sel yang jumlahnya banyak sekali atau dapat juga dikatakan semua unsur yang bernyawa dikatakan sebagai sel. Jaringan pada tumbuhan yang khususnya tumbuh dikotil dan tumbuhan monokoyil, perbedaan keduanya terlihat pada bijinya dan adanya cambium diantara keduanya dimana penyusun semua itu adlah sel (Soenarto, 1992).
Jika kita mengamati suatu organisme yang agak besar dan agak mudah untuk dilihat maka kita didak akan mengalami kesulitan untuk mengenali bagian-bagiannya. Pada tahun 1543 seorang ahli anatomi yang bernama Adreas Vesalius menerbitkan karyanya yang sangat penting yaitu buku tentang struktur tubuh manusia. Pada abad ke-17 Antonion Van Leeuwenhoek bukanlah satu-satunya penyelidik yang menggunakan mikroskop tetapi lensa-lensa yang dibuat oleh Van Leewenhoek memang yang terbaik, kira-kira 15 tahun sebelum Van Leewanhoek mengirim surat petama pada Royal Society of London, seorang Otali yang bernam Marcello Malphigi, telah melihat pembuluh-pembuluh darah yang kecil dan berdinding tipis yang dinamakan pembuluh kapiler (Johnson, 1985).
Sitologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sel, penemu pertama adalah Robert Hooke, ia menentukan sel gabus yang tidak mempunyai membrane atau tidak mempunyai protoplasma (sel mati). Sel terdiri dari sel tumbuhan dan sel hewan. Penemu sel tumbuhan adalah Sc Sel yang terdapat pada tumbuhan berbeda dengan sel yang terdapat pada hewan, salah satu perbedaan khas yang dimiliki sel tumbuhan dibandingkan sel hewan adalah adanya dinding sel pada sel tumbuhan yang mengandung bahan selulosa. Dinding sel ini berfungsi untuk melindungi isi sel dan memberi bentuk pada sel. Apabila dalam sel terdapat protoplasma, maka sel itu dikatakan hidup karenma pada protoplasma sel tumbuhan terdapat plasma sel, inti sel, butir-butir plastida dan mitokondria (Gabriel, 1988).
Sel gabus merupakan tumbuhan Quercus suber termasuk sel mati karena sudah tidak memiliki inti sel dan sitoplasma sehingga ruang selnya tampak kosong. Bentuk selnya heksagonal, tersusun rapat antara satu dengan lainnya, dengan pewarnaan safranijn dan hematoxilin akan nampak bayangan merah (Gabriel, 1988).
Epidermis pada tumbuhan merupakan jaringan penyusun tubuh yang paling luar, umumnya terdiri dari selapis sel saja dengan dinding sel berlapis kutikula menghadap ke udara. Untuk mencegah penguapan air yang terlalu besar kadang-kadang masih terdapat lapisan lilin atau rambut epidermis di sebut juga dengan jaringan pelindung. Diantara epidermis terdapat alat tambahan yang disebut derivat epidermis, berupa rambut daun , stomata dan sel kipas (Djamnur, 1986).
Perbedaan yang mendasar antara sel hewan dan tumbuhan yaitu adanya dinding sel pada sel tumbuhan yang mengandung bahan selulosa. Apabila dalam ruang sel terdapat protolasma maka sel tersebut bisa dikatakan hidup karena pada protoplasma sel terdapat plasma sel yang mengandung inti sel, butir-butir plastida dan mitokondria (Subowo, 1992).
Sel tumbuhan memiliki organel khas yaitu vakuola, plastida, dan dinding sel. Vakuola terdapat di dalam sitoplasma, berisi cairan (getah) sel, memiliki membran tunggal yang disebut tonoplas yang bersifat semipermiabel (diferensial permeabel) (Syamsuri, 1997).
Pada tumbuhan istilah sel meiliputi protoplasma dan dinding sel yang ada scdangkan pada organism multi sel yang ada membentuk struktur kompleks yaitu jaringan dan organ. Sel pada organisme multi sel tidak sama satu dengan lainnya tetapi masing-masing mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda. Pada awalnya struktur dinding sel yang ada pada tumbuhan dianggap sebagai sel mati hasil ekskresi zat hidup dalam sel akan tetapi baru-baru ini makin banyak ditemui bukti bahwa ada satuan organik yang ada diantara protoplas dan dinding, khususnya pada sel muda (Saktiono,1989).
Meskipun antara sel hewan dan sel tumbuhan berbeda namun terdapat persamaan-persamaan dasar tertentu mengenai sifat, bentuk, dan fungsi dari bagian sel tersebut. Secara umum bagian-bagian sel tersebut adalah membran sel, sitoplasma, mitokondria, retikulum endoplasma, aparatus golgi, lisosom, plastida, kloroplast, sentrosom, ribosom, vakuola, inti sel, membran inti, mikrofilamen, dan dinding sel (Winarto,1981).
Fungsi vakuola :
1. Menyimpan bahan makanan (air, garam, mineral, protein, gula,asam organik, asam amino)
2. Berperan dalam turgiditas (turgor sel) dan bentuk sel
3. Dapat memberi warna pada bunga dan buah karena mengandung pigmen antosian yang berguna untuk menarik serangga, burung, dan hewan lain yang berjasa bagi penyerbukan dan pemencaran biji.
4. Sebagai lisosom (berisi enzim) dapat mencerna sitoplasma ketika sel mati dan tonoplas pecah menyebabkan autolisis.
5. Tempat penimbunan sisa metabolisme : kristal Ca oksalat, alkaloid, tanin, lateks.
(Solikhin ,2001)
Plastida memiliki membran rangkap, berkembang dari proplastida di daerah meristematik. Macam-macam plastida :
1. Leukoplas : plastida tidak berwarna, sebagai gudang simpanan makanan. Amiloplas (berisi amilum), proteinoplas (protein), dan elailoplas (berisi minyak dan lemak).
2. Kloroplas : plastida berwarna hijau, mengandung klorofil, pigmen karotenoid, berfungsi untuk fotosintesis.
3. Kromoplas : plastida berwarna merah atau kuning, mengandung karotenoid (karoten dan xantofil), non fotosintesis
Dinding sel terdiri dari dinding primer dam lamela tengah yang terletak antara 2 dinding primer yang berdekatan. Zat penyusun dinding primer adalah serat selulosa, sedang lamela tengah adalah Mg dan Ca pekat yang berupa gel. Beberapa sel (xilem, skelerenkim) dinding primer mengalami penebalan dengan zat lignin membentuk dinding sekunder yang keras dan kaku. Bagian dinding sel yang tidak mengalami penebalan membentuk celah yang di sebut noktah. Melalui noktah terjadi komunikasi antar sel dengan perantaraan plasmodesmata (benang sitoplasma) (Syamsuri, 1997).
Sel kapas dan sel gabus mempunyai bentuk sel yang hampir sama yaitu membujur seperti benang-benang, perbedaan diantara keduanya hanyalah kapuk mempunyai inti sel (Azidin,1986).

Sel adalah unit terkecil dari makhluk hidup, baik secara struktural dan fungsional. Sel merupakan satuan dasar yang menyusun organisme. Perbedaanantara sel hewan dan sel tumbuhan dapat kita lihat dari organel-organel yang dimiliki oleh masing-masing sel hewan dan sel tumbuhan. Perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan dapat kita lihat dari tabel berikut.
No
Organel
Sel Hewan
Sel Tumbuhan
1.
Mitokondria
Ada
Ada
2.
RE
Ada
Ada
3.
Badan Golgi
Ad a
Ada
4.
Ribosom
Ada
Ada
No
Organel
Sel Hewan
Sel Tumbuhan
5.
Lisosom
Ada
Tidak Ada
6.
Badan Mikro
Ada
Ada
7.
Plastida
Tidak Ada
Ada
8.
Vakoula
Tidak Ada
Ada
9.
Sentriol
Ada
Tidak Ada
10.
Kloroplas
Tidak Ada
Ada
11.
Sitoskeleton
Ada
Ada

Sel yang dikatakan hidup adalah sel yang masih memiliki inti sel dan sitoplasma. Sel Hewan tidak memiliki dinding sel dengan bentuk yang tidak tetap sedangkan sel tumbuhan memiliki dinding sel, membran sel, kloroplas dan bentuk yang tetap (memiliki bentuk).

Azidin, 1986. Ringkasan Biologi. Ganeca Exact; Bandung.
Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan; Jakarta.
Gabriel, F. J.1986. Fisika Kedokteran. EGC; Jakarta
Gabriel, J.F. 1988. Fisika Kedokteran. Departemen Fisika. Universitas Udayana; Denpasar Bali.
Johnson, 1985. Anatomi Tumbuhan. Universitas Gajah Mada; Yokyakarta.
Saktiono. 1989. Biologi Umum. Gramedia; Jakarta.
Subowo, 1992. Histologi Umum. Bumi Aksara; Jakarta.
Syamsuri, 1997. Biologi Umum. Erlangga; Jakarta.
Syamsuri., I.  2000.  Biologi 2000.  Erlangga;  Jakarta.
Winarto, L.M. 1981. Penuntun Pelajaran Biologi.  Ganeca Exack; Bandung.

Mengenal Jaringan Tumbuhan

Dalam tubuh tumbuhan juga terdiri dari beberapa jaringan. Jaringan pokok penyusun organ tumbuhan tingkat tinggi adalah jaringan epidermis, merupakan jaringan penyusun tubuh tumbuhan paling luar dan umumnya terdiri dari selapis sel saja. Berfungsi melindungi bagian dalam organ tumbuhan, sehingga disebut sebagai jaringan pelindung. Jaringan parenkim atau disebut juga jaringan dasar karena merupakan penyusun sebagian besar organ tumbuhan seperti korteks batang dan akar, mesofil daun dan endosperma biji. Parenkim juga merupakan tempat utama berlangsungnya aktivitas penting bagi tumbuhan seperti fotosintesis, respirasi dan penimbunan zat-zat makanan cadangan. Parenkim yang mampu melakukan fotosintesis mengandung banyak kloroplas sehingga disebut klorenkim (Amin 1994 : 24).
Jaringan kolenkim dan sklerenkim berfungsi sebagai jaringan penguat pada tubuh tumbuhan. Jaringan kolenkim terdiri dari sel-sel yang berprotoplas hidup dengan penebalan dinding dari selulosa, hemiselulosa dan pektin. Selnya kadang-kadang juga berisi kloroplas sehingga mampu menjalankan fotosintesis. Terdapat di daerah perifer, misalnya langsung di sebelah dalam epidermis batang atau akar. Jaringan sklerenkim terdiri dari sel-sel yang berdinding tebal dan keras karena telah mengalami lignifikasi yaitu penebalan dari zat lignin (kayu). Pada umumnya terdapat bersama parenkim, misalnya parenkim kortek, yang berfungsi sebagai penguat jaringan lainnya (Amin 1994 : 24).
Organ pada tumbuhan tingkat tinggi dapat dibedakan menjadi tiga macam organ penting, yaitu : Akar Akar merupakan alat tubuh tumbuhan yang lazimnya berada di dalam tanah dan mempunyai peranan yang sangat penting. Secara skematis akar dilengkapi oleh bagian-bagian akar primer (radix primarius), leher akar (collum rasici), batang akar (corpus radici), cabang-cabang akar (radix lateralis), ujung akar (apex radici), serabut akar (fibrica radiculi), rambut-rambut akar (pilus radici), dan tudung akar (calyptra) (Saktiono 1989 : 52).
Batang merupakan salah satu bagian tubuh tumbuhan yang berfungsi sebagai tempat tumbuhnya akar dan daun. Secara skematis, batang dilengkapi oleh bagian-bagian buku-buku batang (nodus), ruas batang (internodus), daun (folium) dengan duduk daunnya, dan daun penumpu (stipula) (Saktiono 1989 : 13).
Daun adalah alat tubuh tumbuhan yang lazimnya berwarna hijau, tipis, dan permukaannya lebar. Daun berfungsi sebagai tempat terjadinya proses fotosintesis, karena di daun terdapat klorofil atau zat hijau daun yang berfungsi sebagai makanan bagi tumbuhan. Daun yang lengkap mempunyai upih daun (vagina), tangkai daun (petolus), dan helai daun (lamina). Secara skematis, sehelai daun dilengkapi oleh bagian-bagian yaitu pangkal daun (basis), ujung daun (apex), tepi daun (margo), petulangan daun (nervatio), ibu tulang daun (Saktiono 1989 : 42).
Jaringan pokok penyusun organ tumbuhan tingkat tinggi adalah jaringan epidermis, merupakan jaringan penyusun tubuh tumbuhan paling luar dan umumnya terdiri dari selapis sel saja. Berfungsi melindungi bagian dalam organ tumbuhan, sehingga disebut sebagai jaringan pelindung. Jaringan parenkim atau disebut juga jaringan dasar karena merupakan penyusun sebagian besar organ tumbuhan seperti korteks batang dan akar, mesofil daun dan endosperma biji. Parenkim juga merupakan tempat utama berlangsungnya aktivitas penting bagi tumbuhan seperti fotosintesis, respirasi dan penimbunan zat-zat makanan cadangan (Kimball 1983 : 46).
Parenkim yang mampu melakukan fotosintesis mengandung banyak kloroplast sehingga disebut klorenkim. Jaringan kolenkim dan sklerenkim berfungsi sebagai jaringan penguat pada tubuh tumbuhan. jaringan kolenkim terdiri dari sel-sel yang berpotoplas hidup dengan penebalan dinding dari selulosa, hemiselulosa dan pektin. Selnya kadang-kadang juga berisi kloroplast sehingga mampu menjalankan fotosintesis. Terdapat di daerah perifer, misalnya langsung di sebelah dalam epidermis batang atau akar. Jaringan sklerenkim terdiri dari sel-sel yang berdinding tebal dan keras karena telah mengalami lignifikasi yaitu penebalan dari zat lignin (kayu). Pada umumnya terdapat bersama parenkim, misalnya parenkim kortek, yang berfungsi sebagai penguat jaringan lainnya (Kimball 1983 : 46).
Ada tiga lapisan lembaga (germinal) yang merupakan bakal dari pembentukan jaringan atau organ-organ dewasa, yaitu lapisan lembaga ektoderm, lapisan lembaga mesoderm dan lapisan lembaga endoderm. Lapisan lembaga ektoderm menurunkan kulit dan sistem syaraf, sedangkan lapisan lembaga mesoderm akan membentuk otot, rangka, organ ekskretori, jantung dengan pembuluh darahnya serta organ-organ genetalia dan juga akan menurunkan coelum atau body cavity diantara kedua lapisan mesoderm lateral. Saluran pencernaan dengan kelenjar pencernaannya, paru-paru dan kantung air seni akan diturunkan dari lapisan lembaga endoderm (Salisbury 1995 : 20).
Pada tumbuhan istilah sel meiliputi protoplasma dan dinding sel yang ada scdangkan pada organisme multi sel yang ada membentuk struktur kompleks yaitu jaringan dan organ. Sel pada organisme multi sel tidak sama satu dengan lainnya tetapi masing-masing mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda. Pada awalnya struktur dinding sel yang ada pada tumbuhan dianggap sebagai sel mati hasil ekskresi zat hidup dalam sel akan tetapi baru-baru ini makin banyak ditemui bukti bahwa ada satuan organik yang ada diantara protoplas dan dinding, khususnya pada sel muda (Saktiono 1990 : 28).

Sumber :
Amin. 1994. Fisiologi Hewan daan Tumbuhan. Karunika. Jakarta.
Kimball, J. W. 1992. Biologi Jilid I. Erlangga; Jakarta.
Salisbury, F. B dan Ross, C. W. 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB. Bandung.
Saktiono. 1989. Biologi Umum. Gramedia. Jakarta
Parlan.V. F. 1995. Panduan Belajar Biologi. Yudistira. Jakarta.

Rabu, 25 Juli 2012

Jaringan Tanaman

Jaringan dalam biologi adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Jaringan-jaringan yang berbeda dapat bekerja sama untuk suatu fungsi fisiologi yang sama membentuk organ. Jaringan dipelajari dalam cabang biologi yang dinamakan histologi, sedangkan cabang biologi yang mempelajari berubahnya bentuk dan fungsi jaringan dalam hubungannya dengan penyakit adalah histopatologi.

Jaringan dimiliki oleh organisme yang telah memiliki pembagian tugas untuk setiap kelompok sel-selnya. Organisme bertalus, seperti alga ("ganggang") dan fungi ("jamur"), tidak memiliki perbedaan jaringan, meskipun mereka dapat membentuk struktur-struktur khas mirip organ, seperti tubuh buah dan sporofor. Tumbuhan lumut dapat dikatakan telah memiliki jaringan yang jelas, meskipun ia belum memiliki jaringan pembuluh yang jelas.

Jaringan tanaman relatif lebih homogen daripada jaringan hewan. Tanaman tidak memiliki kemampuan lokomosi (berpindah)/bergerak secara aktif sebagaimana hewan. Meskipun demikian, banyak sel-sel baru terbentuk untuk berbagai jaringan sebagai kompensasi banyaknya sel-sel yang mati, yang menjadi pasif karena berperan sebagai sel-sel penyimpan cadangan energi (misalnya pada buah atau umbi) atau metabolit sekunder, dan untuk mengisi jaringan baru karena tumbuhan selalu bertambah massanya, khususnya bagi tumbuhan tahunan. Jaringan yang aktif memperbanyak diri dan tidak memiliki fungsi khusus disebut jaringan meristematik, sementara jaringan yang telah mantap dengan fungsinya disebut jaringan tetap/permanen.

  • Jaringan meristematik

Jaringan meristematik terdiri dari sel-sel meristem, suatu analog dari sel-sel punca (stem cells) hewan. Jaringan ini dapat ditemukan pada titik-titik tumbuh di ujung batang dan akar (disebut meristem pucuk/ujung/apikal), di bawah kulit kayu (sebagai kambium gabus maupun kambium pembuluh, disebut meristem tepi/lateral), dan di tepi ruas atau buku, serta pada pangkal tangkai daun (meristem antara/interkalar). Jaringan ini, terutama meristem ujung, mudah diinduksi untuk diperbanyak secara in vitro. Dalam jargon kultur jaringan, sel-sel ini dikatakan bersifat embrionik ("dapat membentuk embrio"). Jaringan meristematik juga terbentuk apabila ada bagian tumbuhan yang terbuka, misalnya karena terluka. Mobilisasi beberapa fitohormon, biasanya auksin dan sitokinin, akan memicu terbentuknya sel-sel meristem yang membentuk semacam jaringan tidak terdiferensiasi yang disebut kalus.

  • Jaringan permanen

Jaringan permanen dikategorikan menjadi tiga kelompok utama: epidermis (jaringan pelindung, terdiri dari sel-sel yang menyusun lapisan luar daun dan bagian-bagian tumbuhan yang masih muda), jaringan pengangkut (menyusun xilem dan floem), dan jaringan dasar (mencakup parenkim, klorenkim, kolenkim, dan sklerenkim).

Epidermis melindungi bagian dalam organ sehingga tidak bersentuhan langsung dengan pengaruh keadaan di luar organ. Epidermis dapat dilindungi oleh lapisan tipis di bagian luar yang dikenal sebagai kutikula. Dapat juga ditemukan lapisan malam (wax). Sel-sel epidermis biasanya berbentuk segi empat apabila dilihat dari samping, berjajar homogen. Namun demikian, epidermis dapat mengalami perubahan menjadi sel-sel penutup atau sel penjaga stomata beserta beberapa sel tetangga, trikoma (miang atau rambut daun/batang), duri, serta rambut kelenjar.

Jaringan pengangkut dimiliki oleh tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta). Gymnospermae memiliki jaringan trakeida, serabut trakeida, dan parenkim kayu sebagai penyusun xilem. Angiospermae memiliki tambahan jaringan trakea selain jaringan yang dimiliki Gymnospermae. Floem (pembuluh tapis) tersusun dari jaringan buluh tapis dan sel-sel pengiring.

Jaringan dasar menyusun sebagian besar tubuh tumbuhan (biomassa). Kelompok jaringan ini memiliki banyak fungsi tergantung tempat ia berada. Seringkali ia mengisi bagian terbesar dari suatu organ, menyusun daging buah, kulit batang, isi umbi atau rimpang yang menyimpan pati atau metabolit sekunder tertentu (seperti alkaloid dan terpenoid). Jaringan ini juga dapat mengalami kematian dengan mengosongkan isi sel-selnya untuk membentuk struktur berongga (aerenkim) seperti ruang dalam gelembung pada tangkai daun eceng gondok atau rongga dalam buluh bambu.